www.peristiwaRakyat.com.ǁSampang,21 Januari 2026-Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sampang, Madura, memberikan penjelasan terkait penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Batuporo Timur, Kecamatan Kedungdung, Sampang, Rabu (21/1/2026).
Penyaluran program dari pemerintah pusat ke lembaga sekolah tersebut kini menjadi polemik setelah disorot warga, bahkan sempat viral di media sosial (medsos).
Pemicunya, karena penyaluran MBG tetap berjalan, meski tidak ada aktivitas belajar di sekolah tersebut, alias tidak ada murid.
Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Disdik Kabupaten Sampang, Moh Yusuf mengatakan, secara administrasi, SDN Batuporo Timur masih tercatat aktif dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Kementerian Pendidikan Dasar.
Data tersebut mencatat puluhan siswa dan sejumlah tenaga pendidik masih terdaftar di sekolah tersebut.
“Secara data, sekolah itu memang masih aktif. Siswa tercatat di Dapodik dan guru juga ada,” ujarnya.
Namun demikian, Yusuf mengakui adanya dinamika di lapangan terkait kehadiran siswa.
Berdasarkan informasi yang diterimanya dari pihak sekolah, sebagian besar siswa SDN Batuporo Timur diketahui mengikuti kegiatan belajar di madrasah atau sekolah swasta pada hari efektif.
“Informasi dari guru, Senin sampai Kamis siswa masuk ke madrasah atau sekolah swasta di sekitar desa. Sementara hari Jumat mereka masuk ke SDN, karena madrasah libur,” jelasnya.
Yusuf juga membenarkan bahwa saat pihak Disdik turun langsung ke lokasi, memang tidak mendapati aktivitas belajar mengajar di sekolah tersebut.
Meski begitu, pihaknya menerima dokumentasi kegiatan siswa yang diklaim berlangsung pada hari Jumat.
“Waktu kami cek ke lapangan, siswa memang tidak ada, tapi kami menerima foto-foto kegiatan belajar siswa pada hari Jumat. Karena itu, kami masih perlu memastikan kebenarannya,” katanya.
Menurutnya, kondisi seperti itu bukan fenomena tunggal dan tidak hanya terjadi di SDN Batuporo Timur.
Persaingan antara sekolah negeri dan sekolah swasta, khususnya madrasah, kerap terjadi di sejumlah wilayah pedesaan di Sampang.
“Ini bukan soal pemaksaan. Faktor ketokohan tokoh agama di desa sangat berpengaruh, sehingga orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya ke madrasah atau sekolah swasta,” terangnya.
Menyikapi persoalan tersebut, Disdik Sampang memastikan akan melakukan pengecekan ulang ke lapangan serta pendataan ulang terhadap sekolah-sekolah yang dinilai memiliki ketidaksesuaian antara data administrasi dan kondisi faktual.
“Minggu ini akan kami cek kembali. Langkah awalnya adalah mendata ulang berdasarkan fakta di lapangan,” pungkasnya.
Sekolah Sepi
Penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Batuporo Timur, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, Madura, mendapat sorotan.
Pasalnya, sekolah tersebut diduga tidak menunjukkan aktivitas belajar mengajar meski tercatat aktif dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
Dugaan itu disampaikan Zainuddin, warga setempat, yang mengaku heran saat mengetahui adanya distribusi MBG ke sekolah yang menurutnya sudah lama sepi dari kegiatan pembelajaran.
“Awalnya saya kira sekolah ini memang sudah tidak aktif, tapi ketika melihat ada jatah MBG yang masuk, kecurigaan saya muncul,” ujarnya, Selasa (20/1/2026).
Kecurigaan tersebut semakin menguat setelah dia melihat langsung kondisi di lingkungan sekolah.
Menurut Zainuddin, sejumlah guru tampak mengenakan pakaian dinas, namun tidak terlihat adanya proses belajar mengajar.
“Di jam sekolah justru ada yang memutar musik dangdut dan santai minum kopi. Saat saya tegur, mereka seperti tidak merasa bersalah,” ungkapnya.
Zainuddin kemudian menelusuri data sekolah melalui sistem Dapodik Kementerian Pendidikan Dasar.
Dari data tersebut, SDN 1 Batuporo Timur masih berstatus aktif dengan jumlah 33–34 siswa dan 7 guru.
“Di data tercantum aktif dan punya siswa, tapi fakta di lapangan tidak ada aktivitas. Kondisi sekolah juga tampak tidak terawat,” terangnya.
Merasa ada kejanggalan serius, Zainuddin mengaku melaporkan temuannya ke Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sampang.
Namun, upaya itu justru membuatnya kecewa.
“Saya menunggu hampir empat jam tapi tidak ditemui. Tamu yang datang belakangan justru diterima lebih dulu. Saya merasa dihindari,” keluhnya.

