www.peristiwaRakyat.com.ǁBangkalan,29 Agustus 2026-Bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) memantik keprihatinan mendalam bagi seluruh Civitas Akademika Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Bangkalan.
Bahkan Rapat Senat UTM dalam rangka Wisuda ke-42 Program Sarjana dan Magister Tahun 2026 mengusung tema “UTM Peduli NTT,” digelar di Gedung Pertemuan RP Mohammad Noer UTM, Sabtu (29/8/2026).
“Kami mohon kepada empat mahasiswa terdampak gempa bumi di NTT untuk maju ke depan,” begitulah kalimat Rektor UTM, Prof Dr Safi, di sela sambutannya dari atas podium sambil membalutkan atribut selendang kain tenun khas NTT.
Selendang berwarna merah dengan motif warna putih itu juga dipakai seluruh anggota Senat hingga seluruh panitia Wisuda ke-42 Gelombang II UTM.
Momen itu menegaskan, UTM sebagai institusi pendidikan memiliki tanggung jawab untuk memberikan contoh kepedulian sosial dan kemanusiaan kepada masyarakat NTT terdampak gempa bumi.
Mewakili tiga mahasiswa UTM asal NTT terdampak gempa bumi, Yaheskiel Flemon Apiseto dalam kesempatan wawancara mengaku, dirinya tidak menyangka bahwa ternyata segenap Civitas Akademika UTM memberikan perhatian mendalam atas tragedi bencana alam yang menimpa NTT.
“Mereka tidak menutup mata, kami merasa tidak sendirian di Madura. Karena bisa dibilang, mahasiswa NTT di UTM berjumlah sedikit dan lebih banyak dari daerah lain. Namun tiba-tiba saya dihubungi, katanya minta pendataan terkait korban gempa. Di situ saya mulai merasa bersyukur, ternyata kampus selama ini memperhatikan kami juga,” ungkap Yaheskiel.
Mahasiswa Semester III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) UTM itu berasal dari Dusun Puuperi, Desa Ndetundora I, Kecamatan/Kabupaten Ende, NTT.
Sementara tiga mahasiswa UTM lainnya yakni, Arnina Saputri semester I Fakultas Hukum, Dian Munawarah semester V FISIB, dan Elisabeth Gersela semester I Fakulltas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Bebas UKT 1 Semester, Plus Rp2 Juta per Mahasiswa
Wujud keprihatian serta rasa empati atas gempa bumi NTT tidak sebatas digelorakan Civitas Akdemika UTM melalui tema, ‘UTM Peduli NTT.’
Namun juga dituangkan dengan dukungan kebijakan taktis, yakni membebaskan Uang Kuliah Tunggal (UKT) satu semester ditambah uang senilai Rp2 juta untuk masing-masing mahasiswa terdampak gempa bumi NTT.
“Saya pribadi mengapresiasi UTM sudah mau membantu secara UKT dan kebutuhan hidup di sini. Kami juga sangat bersyukur karena bantuan mereka tulus, juga mengajak mahasiswa lain untuk berdonasi. Bukan untuk kami (empat mahasiswa), tetapi juga untuk para korban terdampak di Flores,” tutur Yaheskiel.
Rumah-rumah Retak-Roboh, Akses Jalan Terputus
Ia menjelaskan, kondisi terkini saat ini di kampung kelahirannya, Dusun Puuperi, Desa Ndetundora I, Kecamatan/Kabupaten Ende, NTT, getaran-getaran dari gempa susulan berskala lebih kecil masih dirasakan.
Selain kondisi rumahnya retak, sejumlah rumah warga lainnya disebut Yaheskiel kondisinya roboh karena saat terjadi gempa berskala besar, M7,7 pada 15 Agustus 2026, juga dibarengi dengan bencana tanah longsor.
Akibatnya, beberapa ruas akses jalan terputus sehingga menghambat aktivitas ekonomi masyarakat terdampat. Termasuk ibunda Yaheskiel sebagai pekerja di swalayan, tidak bisa bekerja karena akses jalan rusak.
“Kalau bapak saya petani. Jadi untuk akses jalan sampai sekarang terbatas, saat ini pun masih ada getaran. Sehingga orang tua kami tidak berani tidur dalam rumah, jadi pakai tenda darurat sampai hari ini,” pungkasnya.
Mahasiswa Asal NTT Berjumlah 37 Orang
Rektor UTM, Prof Dr Safi, mengungkapkan, tema ‘UTM Peduli NTT’ pada gelaran Wisuda ke-42 Gelombang II Tahun 2026 sebagai bentuk empati dan wujud kepedulian seluruh Civitas Akademika UTM kepada para korban terdampak bencana gempa bumi di NTT.
“Apalagi kepada mahasiswa UTM sendiri, kami bantu bebas biaya UTK dan tambahan biaya hidup Rp2 juta untuk masing-masing empat mahasiswa tersebut,” ungkap Prof Safi.
Dari hasil penelusuran Bagian Akademik UTM, lanjutnya, didapati sebanyak 37 mahasiswa UTM yang berasal dari NTT.
Namun empat mahasiswa di antaranya mengalami dampak langsung dari gempa bumi yang menimpa NTT.
“Kalau di luar yang empat terdampak ternyata masih ada mahasiswa NTT lain yang terdampak, bisa langsung melaporkan diri ke bagian akademik. Sementara ini hasil verifikasi dari bagian akademik yang terdampak langsung ada empat mahasiswa,” ungkap Prof Safi.
Terkumpul Lebih dari Rp43 Juta
Gelaran Wisuda ke-42 Gelomban II Tahun 2026 diikuti sebanyak 2.011 orang dan dibagi menjadi dua sesi; sesi pertama diikuti 1.005 wisudawan dan sesi kedua diikuti sebanyak 1.006 wisudawan pada Minggu (30/8/2026).
Di sela sambutannya, Prof Safi menggugah hati para wisudawan dan undangan untuk ikut berbagi dalam UTM Peduli NTT.
Bagi yang berpartisipasi menyumbang kepada masyarakat terdampak gempa Bumi NTT, bisa disalurkan melalui scan barcode yang telah tersedia.
Ia menjelaskan, akhir bulan Agustus 2026 kegiatan donasi akan ditutup.
Opsi penyaluran bantuan akan dilakukan melalui kampus negeri terdekat di kawasan NTT, atau melalui Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Peduli NTT yang juga sedang menggalang bantuan untuk korban terdampak bencana gempa bumi NTT.
“Berbagi sesama anak bangsa dan satu saudara. Sementara ini terkumpul lebih dari Rp43 juta, semoga terus bertambah. Semoga bisa sedikit meringankan beban saudara-saudara kita di NTT,” jelas Prof Safi.
Ia menambahkan, seluruh Civitas Akademika UTM mendoakan semoga bencana lekas berakhir dan semua masyarakat yang terdampak gempa bumi NTT dalam kondisi selamat dan sehat.
“Kami berdoa bagi yang mengalami luka, rumah rusak, dan trauma. Semoga semua dampak dari benana yang baru saja terjadi bisa diselesaikan dengan baik, sehingga semua lekas pulih dan aktivitas masyarakat di NTT kembali normal,” pungkas Prof Safi.
