Bupati Fauzi Akui Kekurangan ASN Ahli Migas di Pemkab Sumenep

www.peristiwaRakyat.com.ǁSumenep,18 Desember 2025-Di tengah maraknya aktivitas industri minyak dan gas bumi (migas) di Kabupaten Sumenep, Madura ketersediaan aparatur sipil negara (ASN) yang memahami sektor hulu migas justru sangat terbatas.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada keterlibatan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep dalam berbagai forum pembahasan strategis terkait industri migas yang beroperasi di wilayahnya.

Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo mengakui, bahwa jumlah ASN di lingkungan Pemkab Sumenep yang benar-benar memahami industri hulu migas dapat dihitung dengan jari.

“Di Sumenep itu terbatas, yang mengerti berkaitan dengan industri hulu migas,” kata Achmad Fauzi saat memberikan sambutan arahan dalam kegiatan Bupati Sumenep Award 2025 di Pendopo Agung Keraton Sumenep. Rabu (17/12/2025).

Kabupaten Sumenep menjadi salah satu daerah yang menjadi lokasi operasi sejumlah perusahaan migas, baik yang telah lama berproduksi maupun yang masih dalam tahap awal kegiatan.

Sejumlah perusahaan migas yang telah melakukan eksploitasi sejak bertahun-tahun lalu di antaranya KEI, Husky-CNOOC Madura Limited (HCML), dan Medco.

Selain itu, terdapat pula perusahaan yang masih berada pada tahap eksplorasi, seperti MGA, EML, dan Posco.

Namun, di tengah padatnya aktivitas industri migas tersebut, Achmad Fauzi menyebutkan bahwa ASN Pemkab Sumenep yang memahami migas hanya dua orang.

“Di lingkungan Pemkab Sumenep yang mengerti migas hanya ada dua orang. Pak Dadang, ya Pak Kahir,” sebutnya.

Menurutnya, keterbatasan sumber daya manusia tersebut kerap menjadi kendala ketika Pemkab Sumenep menerima undangan diskusi, forum group discussion (FGD), maupun forum resmi lainnya yang berkaitan dengan sektor migas.

Dalam beberapa kesempatan, Pemkab Sumenep bahkan mengalami kebingungan untuk menentukan perwakilan yang tepat.

“Kalau misalnya diundang FGD, bingung kita, mau diwakilkan ke siapa,” ucapnya.

Achmad Fauzi mencontohkan, penugasan ASN dalam forum migas sering kali harus disesuaikan dengan keberadaan dua ASN yang dinilai memahami sektor tersebut.

“Misalnya kemarin saya tidak ada, Pak Dadang tidak ada, ya Pak Kahir kita tugasi,” katanya.

Dua ASN yang dimaksud adalah Abd. Kahir, Sekretaris Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Sumenep, serta Dadang Dedy Iskandar, Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Sekretariat Daerah Kabupaten Sumenep.

Menurut orang nomor satu di lingkungan Pemkab Sumenep ini, keduanya dinilai memahami sektor migas karena secara struktural bersentuhan langsung dengan urusan perekonomian dan sumber daya alam daerah.

Pihaknya menegaskan, keterbatasan ASN yang menguasai industri hulu migas menjadi catatan penting bagi Pemkab Sumenep, mengingat sektor migas memiliki peran strategis terhadap perekonomian dan pembangunan daerah.