www.peristiwaRakyat.com.ǁSampang,27 Januari 2026-Harapan panen yang semestinya tinggal menghitung minggu berubah menjadi kecemasan bagi sebagian petani di Desa Daleman, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, Madura.
Tanaman padi yang mereka rawat sejak awal musim tanam kini menunjukkan gejala tak wajar, daun menguning dan mengering, meski usia panen belum tiba.
Fenomena tersebut dialami mayoritas petani setempat yang menggantungkan hidup dari hasil sawah.
Salah satunya Salamah, warga Daleman.
Ia menuturkan, perubahan cuaca belakangan ini diduga kuat menjadi pemicu utama kondisi tanaman.
“Hujan sudah jarang turun, tapi hampir setiap malam justru sering ada petir. Orang-orang tua dulu bilang, cuaca seperti ini memang tidak baik untuk padi,” ujarnya, Selasa (27/1/2026).
Menurutnya, dampak cuaca ekstrem tersebut mulai terasa ketika padi memasuki fase berbuah.
Daun yang seharusnya tetap hijau justru berubah warna, menandakan pertumbuhan tanaman tidak berjalan normal.
Jika kondisi itu terus berlanjut tanpa penanganan, Salamah khawatir hasil panen tidak akan sesuai harapan.
“Melihat kondisi sekarang, petani jelas waswas, tapi kami tetap berharap semoga nanti masih bisa panen dengan hasil yang layak,” terangnya.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan.
Salamah mengaku telah mengeluarkan biaya cukup besar sepanjang musim tanam tahun ini.
Mulai dari pembelian benih, upah tenaga kerja untuk membersihkan lahan, pemupukan, hingga perawatan rutin lainnya.
“Modal tanam padi sekarang tidak sedikit. Kalau sampai gagal panen, tentu kerugiannya besar bagi kami,” tuturnya.
Serangan Penyakit Tanaman
Sementara, Badan Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Kedungdung membenarkan adanya laporan tanaman padi yang mengalami gejala menguning di sejumlah lahan pertanian warga.
Kepala BPP Kedungdung, Seto, menjelaskan, kondisi tersebut umumnya disebabkan oleh serangan penyakit tanaman, seperti bakteri atau jamur, yang menghambat proses pertumbuhan padi.
“Gejalanya memang daun terlihat kering dan menguning. Sebenarnya bisa dicegah agar tidak menyebar, salah satunya dengan penyemprotan obat sesuai anjuran,” katanya.
“Keterlambatan penanganan membuat penyakit lebih mudah menyebar ke tanaman lain, sehingga berdampak pada penurunan produktivitas sawah warga,” imbuhnya.

