94 Desa di Sampang Rawan Kekeringan, 12 Kecamatan Dipetakan Masuk Zona Kritis & Jadi Prioritas

www.peristiwaRakyat.com.ǁSampang,16 Juli 2026-94 desa di Kabupaten Sampang, Jawa Timur, berpotensi terdampak kekeringan selama musim kemarau 2026.

Hal itu diketahui berdasarkan pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang, Kamis (16/7/2026).

Dari hasil pemetaan tersebut, 12 kecamatan dikategorikan sebagai wilayah dengan tingkat kekeringan kritis dan menjadi prioritas penyaluran bantuan air bersih jika kondisi semakin memburuk.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Sampang, Mohammad Hozin mengatakan, pemerintah daerah telah menetapkan status siaga darurat kekeringan sejak 29 Mei hingga 31 Oktober 2026, sebagai langkah antisipasi menghadapi puncak musim kemarau.

“Untuk wilayah kering kritis akan menjadi prioritas apabila dilakukan dropping air bersih,” ujarnya.

Sebanyak 12 kecamatan yang masuk kategori kering kritis meliputi Banyuates, Camplong, Jrengik, Karang Penang, Kedungdung, Omben, Robatal, Sampang, Sokobanah, Sreseh, Tambelangan, dan Torjun.

Sementara itu, Kecamatan Banyuates, Pangarengan, dan Jrengik diklasifikasikan sebagai wilayah dengan tingkat kekeringan langka.

“Adapun Kecamatan Pangarengan, Sampang, dan Ketapang masuk kategori kering terbatas,” terang Mohammad Hozin.

Menurutnya, pada wilayah dengan kategori kering langka maupun kering terbatas, sumber air masih tersedia.

Namun, debit air mulai mengalami penurunan akibat minimnya curah hujan selama musim kemarau.

“Pada wilayah tersebut, sumber air masih ada, hanya debitnya mulai berkurang karena curah hujan yang rendah,” tuturnya.

Meski status siaga darurat telah diberlakukan, hingga pertengahan Juli 2026, BPBD Sampang mengaku belum menerima permohonan resmi bantuan air bersih dari desa-desa terdampak.

Kendati demikian, pemerintah daerah telah menyiapkan anggaran untuk mendukung distribusi air bersih apabila kondisi kekeringan semakin meluas dalam beberapa pekan ke depan.

BPBD juga memperkirakan musim kemarau masih akan berlangsung hingga September 2026. 

“Kami berharap masyarakat menggunakan air secara bijak,” pungkasnya.